Article

SEBELUM ANAK SAMPAI KE GERBANG SEKOLAH

 


“Bagaimana anak ini dididik sebelum sampai ke gerbang sekolah?”

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana.

Tetapi justru pertanyaan sederhana itulah yang sering hilang ketika masyarakat sedang ramai memperdebatkan sebuah persoalan pendidikan.

Ketika seorang guru memberikan hukuman kepada murid, publik terbelah.

Sebagian berkata, “Guru memang harus tegas. Kalau terlalu lembek, anak sekarang tidak akan punya mental.”

Sebagian yang lain menjawab, “Apa pun alasannya, kekerasan tidak dibenarkan dalam pendidikan.”

Lalu muncullah perbandingan lintas generasi.

Generasi 80-an, 70-an, bahkan generasi sebelumnya bercerita tentang bagaimana mereka dahulu dididik dengan keras.

Dimarahi.

Dihukum.

Disuruh berdiri.

Dijewer.

Bahkan ada yang mengalami hukuman fisik.

Dan sebagian dari mereka kemudian berkata:

“Kami dulu diperlakukan seperti itu. Nyatanya kami baik-baik saja. Kami malah menjadi orang.”

Sementara generasi berikutnya melihat persoalan itu dengan kacamata berbeda.

Bagi mereka, pengalaman tersebut bukan sesuatu yang perlu diwariskan.

Mereka berbicara tentang hak anak, martabat anak, kesehatan psikologis, trauma, dan pentingnya pendidikan tanpa kekerasan.

Perdebatan pun menjadi sederhana:

Generasi lama dianggap terlalu keras.

Generasi baru dianggap terlalu lembek.

Padahal mungkin masalahnya tidak sesederhana itu.

Sebab pertanyaan paling penting dalam pendidikan bukanlah:

“Haruskah kita keras atau lembut?”

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

“Bagaimana kita mendidik anak agar menjadi manusia yang disiplin, bertanggung jawab, tangguh, mampu mengendalikan diri, tetapi tetap menghargai martabat dirinya dan orang lain?”

Di situlah diskusi pendidikan seharusnya dimulai.


DISIPLIN BUKAN KEKERASAN

Mari kita sepakati terlebih dahulu satu hal:

Anak membutuhkan disiplin.

Anak perlu belajar bahwa kehidupan memiliki aturan.

Ada kewajiban.

Ada batas.

Ada konsekuensi.

Ada tanggung jawab.

Anak yang melanggar aturan tidak boleh selalu dibebaskan dari konsekuensi hanya karena ia masih anak-anak.

Anak yang tidak mengerjakan kewajibannya perlu belajar bertanggung jawab.

Anak yang melanggar tata tertib perlu mendapatkan koreksi.

Anak yang menyakiti orang lain perlu belajar memperbaiki kesalahannya.

Tetapi ada satu hal yang perlu kita bedakan:

Disiplin tidak identik dengan kekerasan.

Tegas tidak harus kasar.

Memberikan konsekuensi tidak harus menyakiti.

Mengoreksi tidak harus mempermalukan.

Membentuk karakter tidak harus menggunakan rasa takut.

Sebab tujuan akhir disiplin bukanlah membuat anak takut kepada guru.

Tujuan akhirnya adalah membuat anak mampu mendisiplinkan dirinya sendiri, bahkan ketika tidak ada guru yang mengawasi.

Itulah mengapa pendidikan tidak boleh berhenti pada pertanyaan:

“Bagaimana membuat anak patuh?”

Tetapi harus sampai pada:

“Bagaimana membuat anak memahami mengapa ia harus bertanggung jawab?”

Ada perbedaan besar antara anak yang patuh karena takut dan anak yang disiplin karena sadar.

Yang pertama membutuhkan pengawasan.

Yang kedua membawa pengawasan itu ke dalam dirinya sendiri.


“DULU KAMI JUGA DIDIDIK KERAS”

Kalimat ini hampir selalu muncul dalam perdebatan pendidikan.

Dan pengalaman para generasi terdahulu tentu tidak boleh kita abaikan.

Memang ada generasi yang tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang jauh lebih keras dibandingkan hari ini.

Mereka dimarahi.

Mereka dihukum.

Mereka hidup dengan aturan yang ketat.

Sebagian mengalami perlakuan fisik dari guru maupun orang tua.

Sebagian kemudian tumbuh menjadi orang dewasa yang tangguh dan bertanggung jawab.

Tetapi ada satu kekeliruan logika yang perlu kita hindari:

Seseorang berhasil setelah mengalami sesuatu tidak otomatis berarti sesuatu tersebut merupakan penyebab keberhasilannya.

Dan sebaliknya, seseorang yang mengalami pendidikan keras tidak otomatis pasti mengalami trauma.

Manusia sangat kompleks.

Ada yang mampu melewati pengalaman buruk tanpa luka yang terlihat.

Ada yang menyimpan luka bertahun-tahun.

Ada yang menganggap pengalaman itu sebagai pelajaran.

Ada yang justru berjanji tidak akan mengulanginya kepada anak-anaknya.

Karena itu, pengalaman pribadi tidak seharusnya dijadikan satu-satunya dasar untuk menentukan bagaimana seluruh generasi harus dididik.

Kita perlu bertanya lebih jauh.

Apa sebenarnya yang kita maksud dengan “mental kuat”?

Apakah mental kuat berarti mampu menerima bentakan?

Mampu menahan pukulan?

Mampu tidak menangis ketika dipermalukan?

Atau justru mampu menerima kritik tanpa kehilangan kendali?

Mampu mengakui kesalahan?

Mampu menghadapi konsekuensi?

Mampu menyelesaikan masalah?

Mampu bangkit setelah gagal?

Mampu mengendalikan emosi ketika marah?

Mampu menghormati orang lain meskipun berbeda pendapat?

Kalau definisi kita tentang mental kuat adalah yang terakhir, maka kita harus berhenti menyamakan kekerasan dengan ketangguhan.

Karena:

Mental kuat tidak selalu lahir dari rasa sakit.

Kadang ia lahir dari tanggung jawab, keteladanan, batas yang jelas, kasih sayang, kesempatan memperbaiki kesalahan, dan pengalaman menghadapi konsekuensi.


SEKOLAH BUKAN LAUNDRY KARAKTER

Nah, di sinilah kita perlu membicarakan sesuatu yang sering tidak nyaman untuk dibicarakan.

Sekolah bukan laundry karakter.

Sekolah bukan tempat orang tua mengirimkan anak dengan “paket” kebiasaan yang belum selesai, kemudian berharap guru mengembalikannya dalam keadaan sudah bersih, rapi, dan berkarakter.

Guru bukan tukang cuci kesalahan pengasuhan.

Sekolah bukan tempat untuk mencuci semua kebiasaan buruk yang terbentuk bertahun-tahun di rumah, lingkungan pergaulan, dan dunia digital.

Karena anak tidak datang ke sekolah sebagai kertas kosong.

Ia datang membawa rumahnya.

Ia membawa cara orang tuanya berbicara.

Ia membawa cara keluarganya menyelesaikan konflik.

Ia membawa kebiasaan yang dibentuk setiap hari.

Ia membawa nilai yang ia lihat dari orang-orang terdekatnya.

Ia membawa pengaruh teman.

Ia membawa apa yang ia konsumsi dari layar telepon genggam.

Ia membawa pengalaman hidupnya.

Maka ketika seorang anak melewati gerbang sekolah, sebenarnya sekolah tidak sedang menerima anak yang baru mulai dididik.

Sekolah menerima sebuah proses pendidikan yang sudah berlangsung bertahun-tahun.


GERBANG SEKOLAH BUKAN GERBANG PERTAMA PENDIDIKAN

Sebelum anak mengenal wali kelas, ia sudah mengenal ayah dan ibunya.

Sebelum anak mengenal tata tertib sekolah, ia sudah mengenal aturan di rumah.

Sebelum anak belajar meminta maaf kepada guru, ia sudah melihat apakah orang dewasa di sekitarnya pernah meminta maaf ketika melakukan kesalahan.

Sebelum anak belajar mengendalikan emosinya, ia sudah melihat bagaimana orang dewasa menghadapi kemarahan.

Sebelum anak belajar menghormati orang lain, ia sudah melihat bagaimana orang-orang di sekelilingnya memperlakukan sesama.

Karena itu, pertanyaan:

“Bagaimana guru mendidik anak ini?”

harus dilengkapi dengan pertanyaan:

“Bagaimana anak ini dididik sebelum sampai ke gerbang sekolah?”

Dan bahkan belum selesai.

Kita juga harus bertanya:

“Bagaimana lingkungan setelah gerbang sekolah ikut mendidiknya?”

Sebab pendidikan tidak dimulai ketika bel masuk berbunyi.

Pendidikan dimulai jauh sebelum seragam sekolah dikenakan.

Dan pendidikan tidak berakhir ketika bel pulang berbunyi.

Ia berlanjut di rumah.

Di jalan.

Di lingkungan.

Di tempat bermain.

Di media sosial.

Di ruang keluarga.

Di tempat ibadah.

Di masyarakat.

Bahkan dalam cara orang dewasa berbicara tentang anak-anak.


ORANG TUA BUKAN PELANGGAN, GURU BUKAN PELAYAN

Ada perubahan cara pandang yang juga perlu kita koreksi.

Jangan sampai hubungan antara orang tua dan sekolah berubah menjadi hubungan antara konsumen dan penyedia jasa.

Orang tua membayar.

Sekolah menyediakan layanan.

Anak menjadi “produk”.

Kemudian ketika ada masalah:

“Sekolah harus memperbaiki anak saya.”

Tidak.

Pendidikan tidak bekerja seperti itu.

Tetapi jangan pula dibalik:

“Kalau anak bermasalah, itu urusan orang tua.”

Juga tidak.

Begitu anak berada di lingkungan sekolah, sekolah memiliki tanggung jawab.

Guru memiliki tanggung jawab.

Kepala sekolah memiliki tanggung jawab.

Sekolah harus membangun lingkungan yang aman.

Aturan harus jelas.

Konsekuensi harus proporsional.

Komunikasi harus terbuka.

Dan disiplin harus ditegakkan tanpa merendahkan martabat anak.

Jadi pendidikan bukan sistem oper tanggung jawab.

Bukan:

Orang tua → sekolah.

Kemudian:

Sekolah → orang tua.

Lalu ketika masalah membesar:

Semua → menyalahkan anak.

Anak akhirnya menjadi korban dari orang-orang dewasa yang sibuk melempar tanggung jawab.


GURU JUGA MANUSIA, TETAPI GURU MEMEGANG AMANAH

Di sisi lain, kita juga harus jujur.

Guru adalah manusia.

Guru bisa lelah.

Guru bisa frustrasi.

Guru bisa menghadapi puluhan karakter anak yang berbeda setiap hari.

Guru bisa menghadapi tekanan administrasi, tuntutan orang tua, target sekolah, dan berbagai persoalan lainnya.

Tetapi justru karena guru memiliki posisi sebagai pendidik, ada amanah yang melekat.

Ketika berhadapan dengan anak, guru tidak hanya sedang berhadapan dengan perilaku.

Guru sedang berhadapan dengan manusia yang sedang bertumbuh.

Karena itu, kekuasaan guru harus digunakan untuk mendidik, bukan untuk melampiaskan emosi.

Guru boleh tegas.

Guru boleh mengatakan “tidak.”

Guru boleh memberikan konsekuensi.

Guru boleh menegakkan aturan.

Tetapi ketegasan harus memiliki tujuan pendidikan.

Bukan pembalasan.

Bukan penghinaan.

Bukan pelampiasan.

Sebab anak belajar bukan hanya dari apa yang kita katakan.

Anak belajar dari bagaimana orang dewasa menggunakan kekuasaan.

Jika kita ingin anak belajar mengendalikan emosi, orang dewasa harus memberikan contoh pengendalian emosi.

Jika kita ingin anak belajar menyelesaikan konflik tanpa kekerasan, orang dewasa harus menunjukkan bagaimana konflik diselesaikan tanpa kekerasan.

Jika kita ingin anak menghormati aturan, orang dewasa harus menunjukkan bahwa aturan dapat ditegakkan secara adil.


IT TAKES A VILLAGE TO RAISE A CHILD

Ada ungkapan yang sangat relevan dengan semua persoalan ini:

“It takes a village to raise a child.”

Dibutuhkan satu kampung untuk membesarkan seorang anak.

Maknanya sederhana:

Tidak ada satu pihak yang mampu mendidik anak sendirian.

Orang tua membangun fondasi.

Guru mengembangkan pengetahuan dan karakter.

Sekolah menciptakan sistem dan lingkungan.

Teman sebaya membentuk pengalaman sosial.

Masyarakat membentuk budaya.

Negara membangun kebijakan dan perlindungan.

Dan anak sendiri perlahan-lahan harus belajar mengambil tanggung jawab atas dirinya.

Inilah yang disebut ekosistem pendidikan.

Bukan satu aktor.

Bukan satu institusi.

Bukan satu profesi.

Semuanya saling memengaruhi.

Karena itu ketika seorang anak bermasalah, jangan buru-buru bertanya:

“Siapa yang salah?”

Tanyakan:

“Apa yang terjadi dalam ekosistem pendidikan anak ini?”


JANGAN HANYA MENCARI SIAPA YANG SALAH

Kita hidup di zaman yang sangat cepat memberikan vonis.

Guru salah.

Orang tua salah.

Anak salah.

Sekolah salah.

Netizen kemudian memilih kubu.

Yang satu membela guru.

Yang lain membela anak.

Yang satu membawa nostalgia masa lalu.

Yang lain membawa bahasa hak anak.

Perdebatan pun selesai dengan kemenangan masing-masing kubu di kolom komentar.

Tetapi apakah anak menjadi lebih baik?

Belum tentu.

Apakah sekolah menjadi lebih baik?

Belum tentu.

Apakah orang tua menjadi lebih siap mendidik?

Belum tentu.

Maka mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan:

“Siapa yang menang dalam perdebatan ini?”

melainkan:

“Apa yang harus kita perbaiki agar anak-anak kita tidak mengalami persoalan yang sama?”

Itulah kedewasaan dalam memandang pendidikan.


ANAK BUKAN MILIK SEKOLAH

Pada akhirnya, anak bukan milik sekolah.

Tetapi anak juga bukan hanya urusan orang tua.

Anak adalah bagian dari masyarakat.

Kelak mereka akan menjadi guru kita.

Dokter kita.

Pemimpin kita.

Pegawai kita.

Tetangga kita.

Orang tua bagi generasi berikutnya.

Maka cara kita mendidik mereka hari ini pada akhirnya akan menentukan seperti apa masyarakat kita esok hari.

Karena itu, pendidikan tidak boleh menjadi arena perang antara:

guru versus orang tua,

sekolah versus murid,

atau

generasi lama versus generasi baru.

Kita semua berada di sisi yang sama:

sisi anak.

Bukan berarti anak selalu benar.

Justru karena kita peduli kepada anak, kita harus berani mengatakan ketika ia salah.

Tetapi karena kita peduli kepada anak pula, kita harus memastikan bahwa koreksi terhadap kesalahannya dilakukan dengan cara yang mendidik.

Anak harus belajar bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.

Tetapi ia juga harus belajar bahwa melakukan kesalahan bukan berarti kehilangan martabat.

Ia harus belajar disiplin.

Tetapi bukan melalui ketakutan.

Ia harus belajar tangguh.

Tetapi bukan melalui kekerasan.

Ia harus belajar menghormati orang lain.

Dan ia harus melihat contoh penghormatan itu dari orang-orang dewasa di sekelilingnya.


LALU, SIAPA YANG BERTANGGUNG JAWAB?

Jawabannya bukan satu.

Anak memiliki tanggung jawab.

Orang tua memiliki tanggung jawab.

Guru memiliki tanggung jawab.

Sekolah memiliki tanggung jawab.

Masyarakat memiliki tanggung jawab.

Pemerintah memiliki tanggung jawab.

Tidak semua memiliki porsi yang sama.

Tidak semua memiliki kewenangan yang sama.

Tetapi semuanya memiliki bagian.

Karena pendidikan bukan pekerjaan satu tangan.

Ia membutuhkan banyak tangan yang bekerja menuju arah yang sama.

Dan mungkin, di tengah berbagai perdebatan tentang disiplin, kekerasan, generasi lama, generasi baru, guru, orang tua, dan sekolah, kita perlu kembali kepada pertanyaan paling sederhana:

“Bagaimana anak ini dididik sebelum sampai ke gerbang sekolah?”

Sebab ketika seorang anak berdiri di depan gerbang sekolah, ia bukan hanya membawa tas dan seragam.

Ia membawa hasil dari sebuah ekosistem pendidikan.

Dan ketika ia pulang dari sekolah, proses itu belum selesai.

Ia kembali ke rumah.

Kembali ke lingkungan.

Kembali ke masyarakat.

Kembali ke dunia digital.

Kembali kepada kita semua.

Maka benar:

It takes a village to raise a child.

Tetapi mungkin kita perlu menambahkan satu kalimat:

It takes a whole community to teach a child how to become a responsible human being.

Karena pada akhirnya, tugas kita bukan sekadar membuat anak patuh.

Bukan sekadar membuat anak takut.

Bukan sekadar membuat anak lulus sekolah.

Tugas kita adalah membantu mereka tumbuh menjadi manusia yang:

berkarakter,

bertanggung jawab,

tangguh,

mampu mengendalikan diri,

mampu menghormati orang lain,

dan pada waktunya,

mampu mendidik generasi setelah mereka.

Dan untuk mencapai itu, kita membutuhkan lebih dari sekadar seorang guru.

Kita membutuhkan sebuah ekosistem.

Kita membutuhkan sebuah keluarga.

Kita membutuhkan sebuah sekolah.

Kita membutuhkan sebuah masyarakat.

Kita membutuhkan sebuah kampung yang peduli.

Karena anak adalah masa depan yang sedang berjalan melewati gerbang sekolah hari ini.

Tidak ada komentar:

Terima kasih sudah membaca tulisan "SEBELUM ANAK SAMPAI KE GERBANG SEKOLAH"!
Jika Anda punya kritik, saran, masukan atau pertanyaan silahkan tinggalkan pesan Anda melalui kolom komentar di bawah ini.